Selasa, 30 November 2010

Mengenal reksadana pendapatan tetap

Mengenal Reksadana Pendapatan Tetap
Kamis, 26 Juni 2008 | 12:09

Jenis reksadana yang pertama adalah reksadana pendapatan tetap atau reksadana obligasi. Sesuai dengan namanya, reksadana ini membiakkan sebagian besar dana investor di dalam instrumen surat utang atau obligasi.

Reksadana merupakan alternatif investasi yang tepat bagi investor yang punya dana terbatas. Masalahnya, berdasarkan instrumen investasinya, ada banyak jenis reksadana di pasar yang memiliki profil imbal hasil maupun risiko berbeda-beda. Biar tidak salah pilih, investor harus mempelajari seluk-beluk berbagai jenis reksadana tersebut.

Sebagian besar itu berapa, sih? Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah memberikan rambu-rambunya. Peraturan Bapepam-LK bilang bahwa yang masuk kategori reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang menempatkan minimal 80% dana investor di instrumen obligasi.

Jadi, kalau ada reksadana yang porsi investasinya di obligasi di bawah 80%, ia tidak termasuk reksadana obligasi. Sebaliknya, ada reksadana obligasi yang porsi investasinya di obligasi sampai 100%.

Ada dua jenis pendapatan yang menjadi sumber keuntungan (return) reksadana obligasi. Pendapatan yang pertama berasal dari bunga atau kupon yang diberikan oleh obligasi-obligasi yang ada di dalam reksadana tersebut.

Sifat pendapatan ini tetap. Soalnya, para penerbit obligasi membayarkan kupon obligasi mereka secara rutin dalam jangka waktu tertentu -- biasanya tiga bulan -- dan nilainya juga tetap. Karena ada aliran pendapatan yang tetap inilah, reksadana ini kemudian dinamai reksadana pendapatan tetap.

Tapi, jangan sampai terjebak. Karena namanya reksadana pendapatan tetap, banyak orang berpikir bahwa tingkat keuntungan reksadana jenis ini akan selalu tetap mirip deposito. Parahnya, malah ada investor yang beranggapan bahwa investasi awal di reksadana pendapatan tetap juga tak bisa berkurang, alias selalu tetap.

Presepsi yang telanjur latah ini salah besar! Sebab, aslinya tingkat keuntungan reksadana pendapatan tetap juga bisa naik-turun. Dalam satu bulan tertentu, misalnya, ia bisa memberikan keuntungan 2% per bulan.

Tapi, di saat lain, keuntungan reksadana yang sama bisa cuma 1% per 30 terakhir. Bahkan, bukan tidak mungkin keuntungan reksadana pendapatan tetap ini justru minus atau merugi. Kalau kerugian ini terjadi secara terus-menerus, pada akhirnya investasi awal investor juga akan termakan.

Asal tahu saja, akhir 2005, industri reksadana kita pernah geger akibat fluktuasi return reksadana pendapatan tetap yang berlebihan. Bayangkan, waktu itu, suatu reksadana pendapatan tetap bisa merugi 20% atau lebih dalam sehari doang.

Kok, bisa? Bisa, karena selain ditentukan oleh bunga, keuntungan reksadana pendapatan tetap juga ditentukan oleh perubahan harga obligasi yang menjadi ladang investasinya.Ya, di pasar, harga obligasi -- yang dinyatakan dalam persentase dari nilai pokoknya -- memang bisa naik-turun. ?

Intinya, keuntungan reksadana pendapatan tetap yang berbasis obligasi bisa naik turun mengikuti harga obligasi di pasar. Ada banyak hal yang mempengaruhi harga obligasi.

Reksadana pendapatan tetap sebaiknya digunakan sebagai ladang investasi jangka panjang. Dengan cara ini, investor akan terhindar dari kerugian akibat gejolak harga obligasi dalam jangka pendek.

Faktor penentu yang paling utama adalah suku bunga pasar (BI rate). Pada saat bunga naik, harga obligasi yang menjadi tempat investasi reksadana obligasi akan turun. Akibatnya, keuntungan reksa-dana obligasi juga akan ikut turun. Sebaliknya, pada saat bunga turun, harga obligasi di pasar justru akan naik. Akibatnya, return reksadana obligasi juga ikut terkerek. Karena itulah, reksadana obligasi tergolong memiliki risiko menengah; bukan rendah.

Nah, investor yang berniat berinvestasi di obligasi pendapatan tetap harus memiliki nyali yang cukup agar siap menghadapi fluktuasi keuntungan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Kalau suatu saat keuntungan reksadana pendapatan tetap tiba-tiba bergejolak, apa yang harus dilakukan oleh investor?

Para pakar investasi menganjurkan agar investor tak panik dan buru-buru menjual unit reksadananya. Pasalnya, tindakan menjual reksadana secara panik hanya akan memperburuk keadaan. Jika aksi jual itu dilakukan oleh banyak investor, MI pun terpaksa harus menjual sebagian besar obligasi yang ada di dalam portofolio investasinya.

Akibatnya, mungkin, ia harus menjual obligasi itu dengan harga yang murah. Ujung-ujungnya, penjualan secara obral ini bikin keuntungan reksadana pendapatan tetap itu semakin anjlok.

Selain itu, para pakar investasi juga menganjurkan agar investor menggunakan reksadana pendapatan tetap ini sebagai wahana investasi jangka panjang (di atas 3 tahun). Dengan strategi seperti ini, investor reksadana pendapatan tetap akan terhindar dari kerugian akibat fluktuasi harga obligasi dalam jangka pendek.

Mengenal reksadana pasar uang

Apa itu instrumen pasar uang? Instrumen pasar uang adalah efek utang jangka pendek yang usianya tak lebih dari setahun. Misalnya, sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito atau obligasi yang akan jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Jangan terkecoh dengan namanya. Reksadana pasar uang bukan berarti reksadana yang menempatkan dana investornya pada berbagai mata uang. Yang benar, reksadana pasar uang adalah reksadana yang menempatkan seluruh atawa 100% dana kelolaannya pada instrumen pasar uang.

Dengan karakteristik seperti itu, reksadana pasar uang sangat cocok bagi mereka yang terbiasa berinvestasi di deposito, tapi ingin mulai menjajal berinvestasi di reksadana. Produk ini pas juga buat investor yang mementingkan likuiditas dan orientasi investasinya jangka pendek.

Lantaran sifatnya yang seperti itu, tentu saja para investor mesti maklum bila hasil investasinya tak berbeda jauh dari bunga deposito. Soalnya, ya itu tadi, reksadana pasar uang menempatkan menempatkan sebagian dana investor ke deposito.

Lo, lalu apa nilai lebihnya ketimbang menaruh dana langsung di deposito? Keunggulan pertama adalah soal kebebasan waktu penarikan.
Sudah aturan main yang jamak, jika investor mencairkan deposito sebelum jatuh tempo yang disepakati, ia akan kena penalti alias denda. Besarnya bisa mencapai 10% atas bunga. Artinya, untuk menghindari denda ini, si pemilik dana mesti merelakan dananya ngendon di bank minimal satu bulan.

Enaknya, jika berinvestasi di reksadana pasar uang, investor bisa mencairkan dananya kapan pun ia inginkan tanpa kena denda. Menurut aturan Badan Pengawas Pasar Modal, paling lambat 7 hari setelah pengajuan permohonan pencairan, si investor sudah bisa menerima dananya.

Investor juga bisa menentukan sendiri jumlah dana yang ingin ia cairkan. Sementara, di deposito, investor mesti menarik seluruh dana plus imbal hasilnya.
Nilai lebih yang lain: investor berpeluang mendapat hasil investasi yang lebih tinggi ketimbang bunga deposito. Soalnya, selain di deposito, reksadana pasar uang juga berinvestasi di SBI atau obligasi jangka pendek. Nah, investasi di obligasi jangka pendek ini masih bebas pajak.

Dus, wajar kalau gabungan investasi di deposito plus instrumen lainnya itu mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi di atas bunga deposito. Berkat cukup besarnya dana yang terkumpul lewat reksadana pasar uang, investor pun berpeluang melakukan diversifikasi aset secara tidak langsung. Sebagai gambaran, dengan dana terbatas, katakanlah Rp 20 juta, Anda hanya bisa menyebarnya paling banter ke empat deposito. Itu pun, Anda tidak bisa menawar bunganya agar sedikit lebih tinggi.

Ketika menempatkan dana di deposito, reksadana pasar uang memiliki posisi tawar lebih kuat ketimbang deposan individual. Sebab, melalui reksadana pasar uang bisa terkumpul dana yang cukup besar untuk mendapatkan bunga yang lebih baik. Kebetulan, bank biasanya mau memberikan bunga di atas bunga konter untuk setoran di atas Rp 1 miliar.

Tapi, lewat reksadana pasar uang, dana investor yang terkumpul mungkin akan mencapai miliaran rupiah. Ini membuat manajer investasi (MI) bisa menempatkan dana di lebih banyak deposito dan instrumen pasar uang lain. Walhasil, keuntungan investor pun lebih optimal.

Tapi, mungkin Anda akan bertanya: jika menaruh sendiri dana kita di deposito, potensi untuk rugi boleh dibilang tidak ada. Bagaimana bila dana itu ditempatkan di reksadana pasar uang?

Harus diakui, memang ada kemungkinan imbal hasil reksadana pasar uang minus. Namun, potensinya sangat kecil. Soalnya, nilai instrumen pasar uang yang berjangka pendek itu relatif tetap atau tidak banyak bergerak lagi. Ini berbeda dengan instrumen saham atau obligasi yang masih panjang jatuh temponya.

Satu hal lagi; ketika berinvestasi di reksadana pasar uang, Anda tidak akan melihat penambahan nilai aktiva bersih (NAB) per unit penyertaan seperti pada reksadana lain. Angkanya tetap Rp 1.000 per unit penyertaan.

Cara menghitung keuntungan pada reksadana pasar uang memang berbeda dengan reksadana jenis lain. Hasil investasi reksadana pasar uang tecermin pada penambahan unit penyertaan, bukan peningkatan harga per unit penyertaan.

Biar lebih gampang dipahami, mari kita pakai perumpamaan. Misalnya, Anda membeli 1.000 unit penyertaan reksadana pasar uang dengan harga Rp 1.000 per unit. Ini artinya investasi awal milik Anda sebesar Rp 1.000.000.

Nah, dalam perkembangannya, penempatan dana reksadana pasar uang itu memberikan imbal hasil hingga 10%. Jadi, investasi Anda berbiak menjadi Rp 1.100.000. Logikanya, harga NAB per unitnya kini menjadi Rp 1.100. Tapi, bila Anda lihat laporan hasil investasi yang dikirimkan manajer investasi, harga NAB per unit tetap Rp 1.000.

Tapi, tidak berarti investasi Anda tidak bertambah. Sebab, kalau Anda cermati, jumlah unit penyertaan Anda akan bertambah; dari 1.000 unit menjadi 1.100 unit.